Bahasa Arab Pasaran di Jakarta
Oleh: Zeffry J. Alkatiri
Masyarakat keturunan Arab, khususnya yang bermukim di beberapa tempat di Jakarta, sampai saat ini masih menggunakan bahasa percakapan yang khas. Kekhasannya itu dapat dilihat dari perbendaharaan kosa katanya, struktur gramatikalnya dan dialek mereka. Bagi masyarakat lain yang tidak berhubungan dengan mereka atau bertempat tinggal jauh dari lingkungan mereka, akan sukar untuk memahami percakapan mereka. Bahkan orang Arab yang datang dari Arab sekali pun tidak akan mengerti makna pembicaraan mereka. Karena bahasa yang dipergunakan oleh mereka adalah bahasa Arab pasaran (kolokial) yang cenderung bersifat slang, bahkan menjurus kepada bentuk bahasa rahasia yang tentunya tidak akan ada di kamus umum bahasa Arab. Kecendrungan itu dapat dilihat dari perubahan morfologinya dan pembentukan kosa katanya.
Bahasa percakapan mereka umumnya dipergunakan dalam berbagai kesempatan oleh berbagai kalangan profesi dalam tingkatan sosial yang beragam. Batas usia pemakainya bisa dari umur 12 sampai yang sudah uzur. Bahasa Arab pasaran ini lebih sering di pergunakan oleh orang laki laki. Tetapi kaum wanita dari keturunan mereka setidaknya juga dapat memahaminya.
Bahasa percakapan itu secara tidak langsung telah mempengaruhi masyarakat lain yang bertempat tinggal dekat dengan pemukiman mereka. Pengaruh tersebut juga sampai pada orang orang tertentu yang sering berhubungan dengan mereka. Tanpa disadari secara berangsur angsur, bahasa tersebut telah bercampur dengan logat dan dialek Betawi. Dan secara tidak langsung pula beberapa kosa kata dari bahasa tersebut telah menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Jakarta, seperti sholi (sholat), harman, (suka), sugul (kerja), kul (makan), serob (minum), juad (nikah), fulus (uang), rejal (anak lelaki), sohib (kawan), harim (perempuan/istri/gadis yang disuka), syebe (bapak), umi (ibu), ajus (nenek, tua), ente (kamu), ane (saya), gahwe (kopi), da`jal (setan-iblis), tajir (kaya), mera`bal (brengsek), majenun (gila), bahlul ( bego/dungu), sukron (terima kasih), afdol (cocok), napsi-napsi (sendiri-sendiri), mut (meninggal), lebaik (apa/ada apa), jiran (tetangga), bakhil (pelit), khoir (baik), gum (ayo), bukhroh (besok), ya`hanu (sombong/berpura-pura), ta`ap (tobat/jera/letih), gahar (marah/kesal), ju` (lapar), sekut (diam), dan berbagai hitungan dari 1 sampai 1000.
Di Jakarta tempat pemakaian bahasa percakapan Arab itu umumnya berada tersebar di daerah: Jakarta Pusat (Kwitang, Kemayoran, Kebun Kacang, Kebun Pala, Tanah Abang dan Petamburan). Jakarta Barat ( Sawah Besar, Kebun Jeruk, Taman Sari, Pekojan, Bandengan, dan Krukut). Jakarta Timur (Kampung Melayu, Cawang, dan Jatinegara).
Dalam masyarakat multi etnis gejala kedwibahasaan merupakan sesuatu hal yang wajar. Gejala tersebut akan cenderung menyimpang dari norma norma kedua bahasa yang dikuasainya, terlebih lagi bagi pemakai bahasa percakapan. Kecenderungan itu pula yang secara tidak langsung telah mengikis masyarakat keturunan Arab untuk mempergunakan bahasa Arab yang resmi (bagi mereka bahasa Arab yang resmi itu dikenal sebagai bahasa sekolahan). Batas kwantitas pengunaan kedwibahasaan mereka berupa alih kode dan campur kode yang selalu silih berganti. Terjadinya alih kode maupun campur kode dalam percakapan mereka, boleh jadi disebabkan karena kurangnya istilah pada bahasa yang dikuasainya (baik bahasa Indonesia resmi maupun bahasa Arab resmi). Sebab kedua barang kali karena sudah menjadi kebiasaan, yakni semacam tradisi yang sudah berlangsung bertahun tahun di lingkungan mereka.
Bentuk bahasa campuran (kedwibahasaan) pada mereka diperkirakan sudah berlangsung lama. Menurut salah seorang informan dikatakan sudah ada sejak tahun 1940-an, bahkan sebelumnya. Kosakatanya pun kian bertambah dan umumnya di sesuaikan dengan tuntutan kondisi zamannya. Karena adanya pengaruh zaman, maka ada beberapa kosa kata yang hilang dan tidak terpakai lagi.
Di bawah ini diberikan beberapa contoh dari variasi bahasa percakapan mereka.
Contoh 1: Merupakan percakapan singkat dari dua orang yang sudah saling mengenal, ketika mereka sedang bertemu di sebuah rumah.
“Ahlan “!
“Ahlan “!
“Ke’ke” ?
“Khair “!
“Min Ente”?
“Min Bed”
“Gahwe”?
“Boleh”.
“Yahanu ente, kemarin ane tunggu enggak dateng”
“Al’afu deh, kan ane sugul”
“Abis gimane tuh si Rejal”?
“Ah! Merabal, ane ta’ap deh, ane dateng die sir”.
“Kalo gitu besok aje kita samperin. Ngomong ngomong ente udeh kul belon? Ane udeh ju’ nih, ayo sekalian kul”.
Contoh 2: merupakan percakapan tawar menawar antara dua orang (pembeli dan penjual) ketika mereka sedang berada di sebuah toko:
“Kam”?
“Hamsa miye”
“Galil ente, enggak kurang nih”?
“Itu udeh paling rokhis, kalau bukan sama jama’ah ane enggak kasih segitu”.
“Ane tahu, ape kagak kurang sedikit”?
“Kagak bisa lagi, malahan ane tambahin almanak, ini sih ballas deh, buat ente”.
Contoh 3: percakapan di telepon:
“Sallamualaikum”?
“Wa`alaikum salam“
“Wan, bukhroh ane mau dateng ke bed ente”.
“Kagak bisa, ane nganterin syebe sama ajus ke rumah sakit”
“Abis kapan kita bisa ketemu”?
“Sabtu aja”
“Itu fulus urusanya gimane”?
“Ya, sabtu aja kita bicarain“
“Wallah nih“?
“Wa’allah, ane janji, masa ane bohong”.
Contoh 4: merupakan percakapan antara dua orang yang saling mengenal secara akrab dan mereka sudah lama tidak saling bertemu:
“Mera’bal ente, kemane aje, apa udah tajir. Ane denger ente udeh juwad kok enggak ngundang-ngundang”?
“Ah, siapa bilang, denger dari mane ente”.
“Itu dari si Mamat bahlul”
“Alah orang magrum begitu didengerin”.
“Wallah dia bilang die dateng ngeliat ente”.
“Udeh sekut, baru ketemu udeh bikin ane gahar”.
“Al’afu deh, sir yu”.
“Kemane”?
“Ke bed harim ane”.
“Ayo”.
Dari keempat contoh tersebut, terlihat jelas bentuk variasi, interferensi, alih kode, maupun campur kode. Bentuk bentuk bahasa percakapan tersebut dipergunakan sehari-hari oleh mereka sebagai alat komunikasi, baik dalam situasi resmi; terlebih lagi dalam situasi yang tidak resmi. Secara tidak langsung penggunaan bahasa demikian memperlihatkan karakteristik identitas keberadaan mereka sebagai anggota masyarakat di Jakarta. Kabarnya masyarakat Arab yang berada di kota-kota lain, juga mempunyai bahasa pasaran yang khas sesuai dengan daerah tinggal mereka, seperti, di Solo, Pekalongan, Surabaya, Bangil, Gorontalo, Maluku, dan Palembang.








