Sayur Babacin Betawi
BETAWI memiliki kekayaan kuliner yang unik. Salah satu masakan yang mulai langka dan jarang ditampilkan adalah sayur babanci. Ingin tahu rasanya?
Penasaran dan ingin menikmati menu-menu lezat khas Betawi, penggemar makanan unik bisa datang ke Restoran La Table yang berlokasi di Hotel Ibis Mangga Dua, Jakarta. Masakan unik ala Betawi itu dikemas dalam promosi bertajuk “Festival Hidangan Betawi di Hotel Ibis se-Jakarta”. Festival yang sengaja mengusung menumenu khas Betawi tempo dulu ini berlangsung 15-28 Juni 2009.
Suasana ceria terasa di restoran ini. Sambil makan, tamu-tamu yang datang dihibur kelompok musik tanjidor. Berbagai hidangan Betawi tempo dulu disajikan, termasuk menu-menu yang sudah sangat sulit ditemukan. Satu di antaranya sayur babanci. Dinamakan demikian, lantaran menu ini dianggap “banci”. Bukan termasuk jenis gulai, bukan pula masuk dalam jenis sayur.
“Namanya memang dari zaman dulu sayur babanci. Namun, bukan termasuk sayur ataupun gulai. Itulah kemudian yang membuat menu ini dinamakan sayur babanci,” sebut Executive Chef Hotel Ibis Mangga Dua Raymond Susanto.
Menurut chef yang telah mengenal dunia kuliner sejak usia tujuh tahun itu, makanan Betawi menjadi langka seiring dengan semakin terpinggirkannya orang-orang Betawi asli dari tanah kelahiran sendiri. Selain itu, bumbu yang digunakan pun sangat sulit ditemukan di pasar, misalnya temu mangga dan bangle.
“Temu mangga berbentuk seperti jahe, namun bau dan aromanya seperti buah mangga. Sedangkan bangle menyerupai lengkuas, namun aromanya lebih kuat,” papar chef spesialis hidangan Indonesia itu.
Tidak hanya itu, menu Betawi semakin jarang dibuat karena membutuhkan waktu cukup lama untuk meraciknya. Khusus untuk sayur babanci, proses memasaknya bisa mencapai empat jam.
“Sayur ini terbuat dari daging kepala sapi dikombinasikan dengan kerokan daging kelapa muda. Rasanya memang unik dan kami membuatnya seautentik mungkin,” kata Raymond.
Bukan hanya sayur babanci yang bisa ditemukan di restoran ini. Menu lain yang tidak kalah langka adalah pucung gabus. Menu ini sulit ditemukan di ranah kuliner Tanah Air karena belakangan sangat tidak gampang mendapatkan ikan gabus di pasaran. “Untuk pucung gabus yang unik, selain ikan gabus, kluwek yang digunakan membuat menu ini semakin menarik,” imbuh sang chef.
Festival Hidangan Betawi di Hotel Ibis se-Jakarta yang ditampilkan di Hotel Ibis Mangga Dua dibuat dengan mengadaptasi tiga pasar besar di Ibu Kota, yakni Pasar Senen, Pasar Gambir, dan Pasar Ikan Muara Karang. Tiap hari menu yang disajikan selalu berbeda. Misalnya Senin, menu yang dihadirkan adalah ketoprak, soto betawi, dan es podeng. Pada Selasa, bisa dinikmati rujak juhi, pucung gabus, dan kue pancong. Pada Rabu, giliran kerak telur, pindang srangi, dan es cincau yang ditampilkan. Jika Anda datang pada Kamis, boleh mencoba ketan urab, soto mi jakarta, dan kue putu.
Keberagaman menu juga bisa ditemui pada hari Jumat. Yang menjadi unggulan antara lain menu asinan betawi, sate pentul, dan es cendol. Sementara saat memasuki weekend, pengunjung dimanjakan dengan kehadiran menu gado-gado, sambal godog, dan kue cucur. Bihun siram, sate asam betawi, dan es buah lontar menjadi hidangan favorit di hari Minggu.
Sesuai konsep tiga pasar yang diusung, festival dibuat dengan bentuk pasar tradisional, plus sistem buffet. Di buffet Pasar Ikan Muara Karang dapat ditemukan berbagai jenis menu ikan segar, udang, dan aneka seafood lainnya. Di buffet Pasar Gambir digambarkan suasana Gambir tempo dulu dengan menu unik yang bisa dinikmati sepuasnya.
Khusus untuk Pasar Senen, “tampilannya” sedikit berbeda. Di sini banyak terdapat hidangan ringan, termasuk jajanan pasar yang amat beragam. Pengunjung juga bisa memesan langsung kue putu yang dimasak dalam bambu. “Pasar Senen dulu dikenal sebagai Pasar Kue Subuh. Sesuai dengan namanya, Pasar Senen dulu merupakan pusat jajanan pasar di Jakarta,” ujar Raymond.
Festival Hidangan Betawi ini digelar sebagai bentuk kepedulian pihak hotel terhadap kekayaan kuliner Betawi, yang semakin lama semakin hilang dan dilupakan masyarakat. “Kita baru menyesal ketika kehilangan. Siapa lagi yang mau menghargai kekayaan kuliner negeri ini kalau bukan anak bangsa sendiri?” ucap Raymond.
Menu lain yang tidak kalah menarik bernama risol setan. Dinamakan demikian, karena rasa pedasnya benar-benar menyengat lidah. “Dalam sejarahnya, risol setan dinamakan seperti itu karena siapa pun yang memakannya bakal mengumpat sambil berkata, ‘risol setan, pedas sekali’,” tutur Raymond, sambil tertawa. (tty)
sumber : http://ramadan.okezone.com



