Drama Tetanus: Sebuah Riwayat
29 Maret 1975 – Drama Tetanus: Sebuah Riwayat
SETELAH ditemukannya vaksin tifus, kolera dan disentri, para ahli mencoba untuk mencampurkan tetanus anatoksin ke dalamnya. Dengan demikian empat jenis penyakit dapat dicegah hanya dengan sekali suntik. Sebelum Perang Dunia II, Lembaga Pasteur di Bandung (sekarang Bio Farma) pernah menyelidiki dan mengadakan serangkaian percobaan terhadap binatang. Namun harapan untuk menemukan faksin baru dan serba guna ketika itu menjadi buntu karena matinya semua kelinci percobaan. Bahan-bahan penelitian tadi dilemparkan ke pojok dan ditinggalkan begitu saja.
Ketika balatentara Jepang masuk dan menduduki Indonesia dokter dan ahli kimia mereka pun menyerbu ke dalam lembaga tersebut dan memanfaatkan pasilitas yang ada di sana untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan. Memasukkan obat dari luar sudah tak mungkin karena ketatnya blokade tentara sekutu. Bahan-bahan kimia yang terletak di gedung itu agaknya telah dijamah oleh ahli-ahli Jepang tadi. Dan besar kemungkinan dari sinilah pangkal malapetaka keracunan yang telah membunuh ratusan romusha dulu di Klender – dalam penyuntikan masal untuk mencegah penyakit tifus, kolera dan disentri di kampung yang terletak di pinggir kota Jakarta itu. Maka inilah sebuah riwayat botol-botol Kosong.
Hari Minggu pagi jam sembilan pada pertengahan tahun 1944, telepon berdering di Rumah Sakit Umum Pusat, Jalan Diponegoro. Perkampungan romusha di Klender minta tenaga dokter segera ke sana untuk memeriksa berpuluh-puluh orang yang mengerang, diperkirakan terserang penyakit meningitis atau radang selaput otak. Dokter Bahder Djohan segera berkemas berangkat bersama dua orang laboran. Di gerbang rumah-sakit dia bertemu dengan dr. Aulia dan seorang kapten dokter Jepang. Keduanya bergabung dengan Bahder Djohan karena keinginan mereka untuk menyaksikan peristiwa infeksi masal tersebut.
Sesampainya di kamp CIender, mereka jadi kaget dan tercengang melihat berpuluh-puluh penderita yang merintih. Ada yang di bawah pohon, ada pula yang di dalam rumah atau di tengah padang. Kesemuanya dalam gerakan tubuh yang aneh-aneh. “Ada yang begini dan macam-macam lagi”, urai Bahdel Djohan seraya menirukan gerak mulut, kaki serta tangan yang ganjil-ganjil, di rumahnya sekarang ini di Jalan Kimia, Jakarta. Melihat gelagat para romusha itu, ketiga dokter berpendapat bahwa mereka tidak berhadapan dengan penderita meningitis. Untuk menguatkan perkiraan mereka segera melakukan tusukah untuk memperoleh cairan dari tulang punggung. Namun hasilnya negatif. Artinya mereka semua tidak menderita meningitis. Lalu apa? Dalam perembukan segitiga, Bahder Djohan memperkirakan bahwa yang mereka derita adalah tetanus. Mondar-mandir di dalam kamp itu akhirnya mereka memperoleh keterangan dari seorang penjaga: bahwa satu minggu sebelumnya para romusha mengelah mendapat suntikan vaksin tifus, kolera dan disentri, bikinan Institut Pasteur Bandung. Botol-botol kosong dengan merek yang masih tertera di luarnya disodorkan kepada ketiga dokter.
Keterangan penjaga ini memperkuat dugaan mereka. Sebab masa tunas atau inkubasi dari hama tetanus memang sekitar seminggu. 90 orang penderita romusha itu dikirim ke Jakarta. Sesampainya di sini mereka menunjukkan gejala-gejala klasik dari serangan tetanus: mulut terus terkatup, umpamanya. Penyuntikan serum anti tetanus pun dimulailah. Namun tak seorang dari mereka yang berhasil ditolong. Secepat kilat kampung Klender ditelepon agar mengirimkan semua penderita yang merintih di situ, berikut botol-botol kosong bermerek vaksin tifus, kolera, disentri. Permintaan ini tidak digubris, lantaran tentara Jepang menutup kampung itu bagi orang-orang sipil. Tak ada orang lain boleh mengutak-atik isi perkampungan kerja paksa itu. Menurut taksiran Bahder Djohan, 1000 orang atau lebih mati dalam peristiwa tersebut.
Penangkapan Dokter-Dokter Keesokan harinya, Bahder Djohan yang bekerja pada bagian penyakit dalam minta pada bagian Pathologi Anatomik yang dipimpin dr. Soetomo Tjokronegoro, mengadakan penyayatan pada bagian badan yang disuntik. Tiap sayatan kulit dan sedikit daging itu dikirim kepada Prof dr. Achmad Mochtar yang mengepalai Laboratorium Eijkman (terletak di sebelah barat RSTM sekarang ini dan memperoleh nama dari Cristian Eijkman, sarjana Belanda yang dalam tahun 1929 memperoleh Hadiah Nobel untuk penemuan vitamin B). 90 sayatan lebih masuk laboratorium tersebut. Dari analis bakteriologi Jatman, yang melakukan pemeriksaan, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa yang mengakibatkan kematian masal itu adalah keracunan yang diakibatkan oleh tetanus toxin. Kalau ditarik lebih jauh lagi, kematian itu diakibatkan oleh tercampurnya racun tetanus ke dalam vaksin tifus kolera dan disentri. “Semuanya saya kerjakan secara sistimatik seperti biasa, yaitu secara culturil dan percobaan terhadap binatang”, tulis Jatman dalam catatannya. Apa yang terjadi kemudian bukanlah terciptanya jalan menuju kejelasan tentang malapetaka yang menimpa rakyat yang tak dikenal nama masing-masingnya itu.
Beberapa hari berselang malah dilakukan penangkapan besar-besaran terhadap dokter-dokter Indonesia di Rumah Sakit Jalan Diponegoro tersebut. Yang mula-mula dijebloskan ke dalam kerangkeng Ken Pei Tai di Jalan Merdeka Barat adalah Prof. dr. Achmad Mochtar, yang mengepalai Laboratorium Eijkman. Tanggal 7 Oktober 1944, menyusul pula wakil kepala Laboratorium Eijkman dr. Djoehana Wiradikarta, Kepala Bagian Bakteorologi dr. Hanafiah. Analis Soebekti, Jatman. Nona Ko Kiap Nio, Nona Nanlly Kusumasudjana, Mantri Laboran Sadio, Kepala Dapur, Mantri Laboran Mochtar dan seorang pembantu laboratorium. “Berhari-hari dan berminggu-minggu saya diperiksa terus-menerus dengan ancaman-ancaman seperti tamparan, pukulan dan lain-lain siksaan”, kata Jatman melalui catatannya yang dia tulis tahun 1970 dalam keadaan lumpuh dan beberapa tahun kemudian meninggal dunia.
Pertanyaan-pertanyaan, tulis Jatman, penuh dengan tipu muslihat, dilancarkan bertubi-tubi. Saya sering di sudut-sudutkan dengan tujuan supaya masuk perangkap dan terpaksa mengakui apa yang disodorkan oleh Ken Pei Tai. Tandatangan Paksa Menurut team pemeriksa. Prof dr. Mochtar telah mengakui kesalahannya. Yaitu mencuri tabung cultur tetanus yang kemudian dimasukkan ke dalam botol-botol berisi vaksin TKD. Surat pengakuan sudah disiapkan, dan saya diminta supaya menandatangani. Pernyataan itu bertentangan dengan hasil pemeriksaan yang saya dilakukan tempo hari. Dan yang paling berat, kalau saya tandatangani berarti saya mendorong Achmad Mochtar ke liang kubur. Perdebatan seru terjadi. Saya mengemukakan pendapat bahwa yang mengakibatkan kematian itu adalah tetanus toksin. “Dengan panjang lebar saya terangkan tentang tetanus baksil, tetanus toksin dan pembikinannya. Untunglah dalam perdebatan itu seorang penasehat dan dokter Jepang berada di situ, sehingga dia dapat membenarkan atau paling sedikit menenangkan suasana. Penandatanganan tersebut tidak jadi”, kata Jatman. Alasan untuk menangkap dan menghukum mati Achmad Mochtar tanggal 13 Juli 1945 memang nonsens. Satu-satunya lembaga yang membuat vaksin, toksin dan anatoksin adalah Institut Pasteur di Bandung. Vaksin yang dipergunakan di Klender juga berasal dari sana, meskipun sebagian disimpan dalam kamar dingin Laboratorium Eijkman. Tidak ada sesuatu yang nyata dalam bentuk materi maupun keterangan aksi: bahwa Achmad Mochtar atau bawahannya telah memasukkan toksin tetanus atau baksil ke dalam vaksin yang disuntikkan kepada romusha di Klender.
“Sebaliknya, apa yang dicoba di Institut Pasteur sebelum perang dan eksperimen yang dilakukan Jepang di Jawa dengan percobaan membuat sendiri anatoksin tetanus — menimbulkan dugaan bahwa fihak Jepang sendiri yang menimbulkan malapetaka yang terjadi” demikian Prof MA Hanalian SM yang ikut ditangkap menuliskan kenangannya.
Prof. Hanafiah adalah ipar dari almarhum Achmad Mochtar. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk menangkap Achmad sebab dalam laboratorium yang dipimpinnya tidak dibuat racun yang kemudian membunuh itu. Tetapi Bahde Djohan memberikan isyarat, mengapa dokter lulusan negeri Belanda itu ditangkap. Jepang mengenal Acmad Mochtar sebagai seorang nasionalis yang terus menerus mendesak supaya Indonesia selekas mungkin diberi kemerdekaan. Dengan dalih perang racun tersebut, Jepang menangkap dia yang dicurigai sebagai mata-mata musuh. Malahan ketika itu ada yang mengatakan “kalau perut Achmad Mochtar dibedah akan keluarlah bendera Amerika”.
Drama Lubeck Bahwa yang mengakibatkan terbunuhnya ribuan romusha adalah vaksin yang beracun itu, menjadi agak jelas setelah seluruh tahanan keluar babak belur dari sel Ken Pei Tai. “Setelah kita keluar, kakanda pernah bertemu dengan Prof Dinger. Kakanda mendiskusikan dengan beliau soal yang hangat itu” tulis Prof. Djoehana Wiradikarta kepada Bahder Djohan Menurut Dinger, mungkin fihak Jepang telah melakukan eksperimen dengan anatoksin tetanus. Toksin yang dibubuhi formalin itu menjadi “pernah”, tapi mampu melahirkan antibodies, bila diberikan kepada hewan atau orang. “Ada kemungkinan bahwa pada pembuatan anatoksin untuk profilaksis terjadi kelainan: orang lupa membubuhkan formalin kepada toksin tetanus yang bersifat latihan dengan akibat yang mengerikan”, kata dokter Belanda ahli ilmu bakteri pada Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta waktu itu, yang juga ditahan untuk dijadikan saksi.
Djoehana teringat pada “drama Lubeck” di Jerman Barat: ketika bayi-bayi disuntik vaksinasi anti TBC. Telah terjadi kesalahan yang memilukan karena keteledoran: yang disuntikkan bukan Bacill Calmette Guerin yang avirulent (tak berbisa), melainkan baksil TBC yang berbisa! Anggota-anggota balatentara Jepang sendiri sebagian telah mengakui keteledoran di Lembaga Pasteur tersebut Sebuah kutipan dari Daily Telegrafh tanggal 21 Maret 1951 terbitan Sidney. memberitakan pengakuan seorang dokter kapten Hirosato Nakamura dalam pengadilan penjahat perang. Dia mengaku ikut ambil bagian dalam eksperimen tetanus di Jawa. “Angkatan Laut Jepang di bekas Jajahan Belanda tak punya serum atau vaksin untuk mencegah tetanus dalam tahun 1942, karena blokade tentara sekutu”, katanya dalam sidang itu. Lantas dia memerintahkan laboratorium angkatan laut untuk menyelidiki pembikinan anatoksin. Obat itu dicobakan terhadap 17 orang yang sudah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Jepang. Hasilnya hampir semua orang yang jadi kelinci percobaan, mati. Begitu pengakuannya.
Adakah hubungan antara pengakuan perwira angkatan laut itu dengan bahan-bahan kimia yang ketika itu tersimpan di Lembaga Pasteur, belum terungkapkan. “Materi persidangan dan dokumen mengenai keracunan tetanus itu tentu ada di Australia, Jepang maupun Belanda. Kita meminta pemerintah untuk memperoleh bahan-bahan tersebut. Hingga dengan demikian nama Prof dr. Achmad Mochtar dan dokter-dokter Indonesia lainnya direhabilitir” kata Prof dr. Bahder Djohan berapi-api. Mencari kejelasan dalam perkara ini agaknya cukup pelik, atau memang barangkali saja sudah tak mungkin. Cuma yang jelas Presiden Suharto dalam bulan Agustus 1972 telah menganugerahkan Bintang Jasa Kelas III kepada Achmad Mochtar, yang sampai sekarang tak diketahui di mana Jepang mengubur jenajahnya yang berjasa.
sumber : TEMPO oline








