Iwan Abdurrahman

sebaik-baik manusia adalah yg bermanfaat bagi yg lain
Subscribe

Archive for the ‘Djakarta Tempo Doeloe’

Asal-usul nama tempat di Jakarta – bag 6 (habis)

July 12, 2008 By: Iwan Category: Djakarta Tempo Doeloe 1 Comment →

Pondok Cina

Merupakan sebutan nama untuk kampung yang ada di perbatasan Jakarta dengan daerah Depok Jawa Barat. Menurut sejarah nama Pondok Cina berasal dari sebutan tempat tinggal sementara bagi orang–orang Cina yang mengelola tanah pertanian yang ada disekitar Depok.  Karena jarak Depok dengan Batavia cukup jauh, maka diperlukan pemondokan sementara bagi pekerja penggarap tanah partiklelir tersebut.  Pondokan itu dibangun dilokasi kampung Pondok Cina sekarang.

Kemudian dilokasi pemondokan ini oleh orang Cina dibangun rumah besar yang cukup bagus dan oleh masyarakat disebut dengan Pondok Cina.

Pondok Gede

Merupakan penyebutan wilayah yang ada dipinggiran sebelah Timur Jakarta yang  berbatasan dengan daerah Bekasi.  Yang tersisa sekarang adalah penyebutan untuk Pasar Pondok Gede.  Nama Pondok Gede berasal dari sebuah bangunan besar yang disebut dengan Landhuis.  Bangunan Landhuis adalah rumah besar yang terletak dipinggiran kota sebagai tempat tinggal dan sekaligus sebagai tempat pengurus usaha pertanian dan peternakan.

Sekitar tahun 1775 lokasi ini adalah lahan pertanian dan peternakan yang disebut juga dengan onderneming.  Pondok Gede adalah milik tuan tanah yang bernama Johannes Hoojiman yang kaya raya.  Bangunan pondok gede merupakan satu–satunya bangunan rumah besar yang ada dilokasi tersebut dan bagi masyarakat pribumi sering disebut pondok gede.

(more…)

Share

Asal-usul nama tempat di Jakarta – bag 5

July 11, 2008 By: Iwan Category: Djakarta Tempo Doeloe No Comments →

Manggarai

Kawasan Manggarai dewasa ini terbagi menjadi dua kelurahan, Kelurahan Manggarai Selatan dan Kelurahan Manggarai Utara, wilayah Kecamatan Tebet, Kotamadya Jakarta Selatan.

Nama kawasan itu mungkin diberikan oleh kelompok penghuni awal, yaitu orang–orang Flores Barat (Murray 1961:38). Mereka menamai tempat pemukimannya yang baru, Manggarai, sebagai pengikat kenangan pada kampung halaman mereka yang ditinggalkan.

Menarik untuk dikemukakan, bahwa sebelum pecahnya Perang Dunia di Manggarai berkembang sebuah tarian yang disebut lenggo, diiringi orkes yang antara lain terdiri atas tiga buah rebana biang. Jaap Kunst, seorang ahli etnomusikologi, dalam bukunya Musik in Java jilid II, menyajikan gambar tarian tersebut. Dewasa ini tari tersebut, yang namanya berubah menjadi tari belenggo , menjadi salah satu tari tradisi Betawi dan tersebar di beberapa tempat.  Menurut keterangan dari H. Abdurrahman, mantan Kepala Jawatan Kebudayaan Propinsi Nusatenggara  Timur, di Bima terdapat pula tari jenis itu. namanya pun sama, yakni tari lenggo tidak mustahil kalo tari belenggo Betawi merupakan perkembangan dari tari lenggo Bima, melalui orang – orang Flores Barat yang menjadi penghuni awal kawasan Manggarai adalah bengkel dan stasiun kereta api, serta sebuah kompleks perumahan yang tertata cukup rapi, berbeda dengan perumahan di sekitarnya yang tampak dibangun tanpa perencanaan yang cermat.

(more…)

Share

Asal-usul nama tempat di Jakarta – bag 4

July 11, 2008 By: Iwan Category: Djakarta Tempo Doeloe Comments Off

Karet Tengsin

Marupakan nama kampung yang ada disekitar kampung Tanah Abang.  Nama ini berasal dari nama orang Cina yang kaya raya dan baik hati.  Orang itu bernama Tan Teng Sien .  Karena baik hati dan selalu memberi  bantuan kepada masyarakat sekitar kampung, maka Teng Sien cepat dikenal.  Disekitar daerah ini pada waktu itu banyak tumbuh pohon karet karena masih berupa hutan.  Pada waktu Ten Sien meninggal, banyak masyarakat yang datang melayat.  Bahkan ada yang datang dari luar Jakarta, seperti dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Teng Sien dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Teng Sien. Karena pada waktu itu banyak pohon karet, maka daerah ini terkenal sampai sekarang dengan nama Karet Tengsin.

Kebayoran

Kawasan Kebayoran dewasa ini terbagi menjadi dua buah kecamatan, Kecamatan Kebayoran Baru dan Kebayoran Lama, Kotamadya Jakarta Selatan.  Kebayoran berasal dari kata kabayuran, yang artinya “tempat penimbunan kayu bayur” (Acer Laurinum Hask., famili Acerinae), yang sangat baik untuk dijadikan kayu bangunan karena kekuatannya serta tahan terhadap serangan rayap (fillet 1888: 40).  Bukan hanya kayu bayur yang biasa ditimbun dikawasan itu pada jaman dulu, melainkan juga jenis–jenis kayu lainnya.  Kayu–kayu gelondongan yang dihasilkan kawasan tersebut dan sekitarnya diangkut ke Batavia melalui Kali Krukut dan Kali Grogol, dengan cara dihanyutkan.  Berbeda dengan keadaan sekarang, kedua sungai tersebut pada jaman itu cukup lebar dan berair dalam.

Sampai awal masa kemerdekaan Indonesia, Kebayoran menjadi nama sebuah distrik, yang dikepalai oleh seorang wedana, termasuk  wilayah Kabupaten Meester Cornelis.  Wilayahnya meliputi pula kawasan Ciputat.

Sekitar tahun 1938 di kawasan Kebayoran direncanakan akan dibangun sebuah lapangan terbang internasional, namun dibatalkan karena pecah Perang Dunia Kedua.  Kemudian, mulai tahun 1949 di tempat yang direncanakan untuk lapangan terbang itu dibangunlah Kota Satelit Kebayoran Baru, meliputi areal seluas 730 ha, yang menurut rencana cukup untuk dihuni oleh 100.000 jiwa, suatu jumlah yang jauh dari sesuai dengan perkembangan penduduk Jakarta kemudian hari (Surjomiharjo 1973:37).

Kebon sirih

Kawasan Kebonsirih dewasa ini menjadi nama kelurahan, Kelurahan Kebon Sirih, termasuk wilayah Kecamatan Gambir, Kotamadya Jakarta Pusat.

Dari namanya sudah dapat diperkirakan, kawasan itu dahulu merupakan kebon sirih.  Tanaman merambat, yang dalam bahasa ilmiahnya  disebut Chavica densa Miq., termasuk famili Piperaceae, itu sampai masa–masa yang belum begitu lama berselang sangat digemari banyak orang untuk dikunyah–kunyah, istilahnya: makan sirih. Kelengkapannya antara lain, adalah kapur (sirih), pinang dan gambir. Dewasa ini sirih lebih banyak digunakan sebagai pelengkap upacara termasuk upacara ngelamar.

Belum diperoleh keterangan yang lebih jelas, apakah kawasan tersebut dijadikan Kebun Sirih sebelum atau sesudah dibangunnya defensilijn (garis pertahanan) Van de Bosch pada awal abad kesembilanbelas.

Sekitar pertengahan abad kesembilanbelas Jalan Kebonsirih oleh orang–orang Belanda biasa disebut: de nieuwe weg achter het koningsplein, atau “alam baru di belakang koningsplein”. Kemudian, karena di sana tinggal seorang hartawan yang dermawan, bernama K.F. Holle, mula- mula biasa pula disebut Gang Holle, kemudian berkembang sesuai dengan perkembangannya menjadi Laan Holle walau nama resminya Sterreweg (De Haan 1935:322).

Kemayoran

Kawasan Kemayoran dewasa ini meliputi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Kemayoran, Kebon Kosong dan Serdang, termasuk wilayah Kecamatan Kemayoran, Kotamadya Jakarta Pusat.

Nama Kawasan tersebut biasa disebut Mayoran, seperti yang tercantum dalam Plakaatboek (Van der Chijs XIV:536), dan sebuah iklan pada Java Government Gazette 24 Februari 1816.

Isaac de Saint Martin tergolong pemilik tanah yang sangat luas tersebar di beberapa tempat, antara lain di pinggir sebelah timur sungai Bekasi, di Cinere (dahulu disebut Ci Kanyere) sebelah timur Sungai Krukut di Tegalangus dan di kawasan Ancol, yang luas seluruhnya berjumlah ribuan hektar.  Nama aslinya, adalah Isaac de I’ Ostale de Saint Martin, lahir tahun 1629 di Oleron, Bearn, Prancis.  Karena sesuatu sebab ia meninggalkan tanah airnya, dan membaktikan dirinya kepada VOC.  Pada tahun 1662 ia tercatat sudah berpangkat Letnan, ikut serta dalam peperangan di Cochin.  Dengan pangkat mayor ia terlibat dalam peperangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ketika Kompeni “membantu” Mataram menghadapi Pangeran Trunojoyo.  Pada bulan Maret 1682 ia, bersama Kapten Tack, ditugaskan untuk “membantu” Sultan Haji menghadapi ayahnya Sultan Ageng Tirtayasa.  Pada waktu berlangsungnya perang itu, ia mulai merasa benci kepada Kapten Jonker, yang dianggapnya arogan. Demikianlah, setelah perang itu selesai, dengan berbagai cara ia berusaha agar Jonker dikucilkan.  Dan ternyata usahanya berhasil. Karena merasa dikucilkan, Jonker akhirnya bangkit melawan Kompeni, walupun gagal.

Demikianlah, sekilas tentang tokoh yang pangkatnya abadi melekat pada kawasan yang sebagian menjadi lapangan terbang, dan kemudian dijadikan arena Pekan Raya Jakarta.

Krukut

Merupakan nama kampung yang sekaligus juga nama kelurahan di kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.  Kampung Krukut terletak diantara dua kali, yaitu kali Ciliwung, dan kali Cideng.  Batas–batas kampung Krukut adalah:

Sebelah Timur : Jl. Gajah Mada dan sungai Ciliwung
Sebelah Selatan : Kelurahan Petojo
Sebelah Barat : Kali krukut (Kali Cideng)
Sebelah Utara : Jl. Kerajinan dan Kelurahan Keagungan.

Asal–usul nama kampung Krukut mempunyai beberapa versi diantaranya adalah:

  1. Krukut berasal dari sindiran yang di berikan untuk orang  yang hidupnya sangat hemat alias pelit (Krokot).  Orang Betawi menyebut orang–orang Arab yang banyak tinggal dikampung itu dengan istilah Krukut, dengan merubah kata Krokot menjadi krukut.
  2. Krukut berasal dari kata kerkhof (bahasa Belanda) yang berarti kuburan.  Pada masa lalu kampung tersebut merupakan tempat kuburan masyarakat pribumi (orang Betawi).

Karena lokasi kampung yang dekat dengan kota dan pelabuhan Sunda Kelapa, serta adanya dua kali yang merupakan jalur perdagangan maka banyak pedagang dari Arab yang bermukim di kampungan ini.  Pada masa sekarang banyak dijumpai masyarakat Betawi, keturunan Arab yang mendiami kampung ini, sehingga ada istilah Arab Krukut (keturunan Arab dari Krukut).

Kwitang

Merupakan nama kampung sekaligus sekarang nama kelurahan yang ada di Jakarta Pusat.  Nama ini berasal dari nama orang Cina yang Kaya–raya bernama Kwik Tang Kiam.   Kwik Tang seorang tuan tanah yang kaya dan hampir semua tanah yang terdapat didaerah tersebut miliknya.

Kwik Tang memiliki seorang anak tunggal yang mempunyai sifat yang tidak baik, dia suka berjudi dan mabok.  Akhirnya karena sifat anaknya ini, setelah Kwik Tang meninggal semua tanah milik bapaknya ini habis terjual dan banyak yang dibeli oleh saudagar keturunan Arab.  Sehingga sampai sekarang daerah ini disebut Kwitang dan banyak keturunan Arab yang timggal dikampung Kwitang.

Lapangan Banteng

Lapangan Banteng, yang pada jaman penjajahan Belanda disebut waterlooplein, tidak seluas Lapangan (Medan) Merdeka yang dahulu disebut Koningsplein, dan sekarang menjadi Lapangan Monumen Nasional atau Monas Jakarta Pusat.

Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda Lapangan tersebut dikenal dengan sebutan Lapngan Singa, karena ditengahnya terpancang tugu peringatan kemenangan perang di Waterloo, dengan patung singa di atasnya.  Tugu tersebut didirikan pada jaman pemerintahan pendudukan tentara Jepang.  Setelah Indonesia merdeka namanya diganti menjadi Lapangan Banteng, rasanya memang lebih tepat, bukan saja karena singa mengingatkan kita pada lambang penjajah, tetapi juga tidak terdapat dalam dunia fauna kita. Sebaliknya, banteng merupakan lambang nasionalisme Indonesia.  Disamping itu, besar kemungkinan pada jaman dahulu tempat yang kini menjadi Lapangan itu dihuni berbagai macam satwa liar seperti macan, kijang, dan banteng.  Pada waktu J.P. Coen membangun kota Batavia di dekat muara Ci Liwung, lapangan tersebut dan sekelilingnya masih berupa hutan belantara yang sebagian berpaya–paya (De Haan 1935:69).

Menurut catatan resmi, pada tahun 1632 kawasan tersebut menjadi milik Anthony Paviljoen Sr, dikenal dengan sebutan Paviljoensveld, atau Lapangan Paviljoen Jr. Agaknya, pemilik kawasan itu lebih suka menyewakannya kepada orang–orang Cina yang menanaminya dengan tebu dan sayur–mayur, sedangkan untuk dirinya sendiri ia hanya menyisakan hak untuk berternak sapi.  Pemilik berikutnya adalah seorang anggota Dewan Hindia, Cornelis Chastelein, yang memberi nama Weltevreden, yang kurang lebih artinya ‘sungguh memuaskan”, bagi kawasan tersebut setelah berganti–ganti pemilik, termasuk Justinus Vinck yang mulai pertama membangun Pasar Senen, pada tahun 1767, tanah Weltevreden menjadi milik Gubernur Jenderal Van der Parra.  awal abad ke-19 Weltevreden semakin berkembang tangsi pasukan infanteri juga berbagai kesenjataan lainnya yang tersebar sampai ke Taman Pejambon dan Taman du Bus, di belakang kantor Departemen  Keuangan sekarang.

Pada pertengahan abad ke-19 Lapangan Banteng menjadi tempat berkumpulnya golongan elit Kota Batavia.  Setiap Sabtu sore sampai malam diperdengarkan musik militer (V.I. van de Wall 1933: 18-19).

Lebak Bulus

Kawasan Lebak Bulus dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kleurahan Lebak Bulus, Kecamatan Cilandak, Kotamadya Jakarta Selatan.

Nama kawasan tersebut diambil dari kantor tanah dan fauna lebak berarti “lembah” dan bulus adalah “kura – kura yang hidup didarat dan air tawar” (Satjadibrata 1951:192, 56), jadi dapat disamakan dengan lembah kura-kura.  Mungkin pada jaman dulu di Kali Grogol dan Kali Pesanggrahan yang mengalir di kawasan tersebut banyak kura–kura, alias bulus.

Berdasarkan Surat Kepemilikan  Tanah (Erfbrief) yang dikeluarkan oleh yang berwenang di Batavia tertanggal 2 September 1675 kawasan Lebakbulus adalah milik Bapak Made dan Bapak Candra, yang dapat diwariskan.  Menurut catatan harian di Kastil Batavia tertanggal 12 Februari 1687 Bapak Made adalah seorang Jawa berpangkat letnan (Pada waktu itu setiap penduduk asli pulau Jawa disebut orang Jawa, tidak dibedakan sebutannya antara orang Jawa, Sunda dan Madura). Karena tanahnya sangat subur, kawasan itu oleh Bapak Made dibuka dijadikan sawah dan kebun, yang selanjutnya terpelihara dengan baik.  Tetapi setelah dia meninggal pada tanggal 16 Agustus 1720, tanpa sebab yang jelas, seluruh tanahnya diambil kembali oleh Kompeni, untuk kemudian jatuh ke tangan orang Eropa, yang mengganti namanya menjadi Simplicitas (baca: simplisitas) (De Haan, 1911: 167).  Sekitar tahun 1789 kawasan itu tercatat sebagai milik David Johannes Smith.  Mungkin  olehnya dijual kepada Pieter Welbeeck yang pada tahun 1803 tercatat sebagai pemiliknya (De Haan, 1910:103).  Pada peta yang diterbitkan oleh Topograpisch Bureau tahun 1900, di bagian barat–daya kawasan itu masih tercantum lokasi rumah peristirahatan (landhuis) bernama Simplicitas, tidak begitu jauh dari penggilingan padi yang terletak di tepi sebelah timur Kali Pesanggrahan.

Luar Batang

Kawasan Luarbatang, yang terkenal karena adanya makam yang dikeramatkan  di dalam masjid tua, Masjid Luarbatang, termasuk  wilayah Kelurahan Penjaringan, Kecamatan  Penjaringan, Kotamadya Jakarta Utara.  Letaknya terhimpit antara terusan Pelabuhan Sundakelapa dan  kawasan perumahan elit, Pluit.

Menurut legenda, kawasan itu disebut Luarbatang, sebagai kenangan atas peristiwa ajaib, yang terjadi pada saat jenazah Sayid Husein, seorang penyebar agama Islam yang sangat tinggi ilmunya, akan diturunkan ke liang lahat. Walau kerandanya, yang menurut istilah  setempat biasa disebut kurung batang, dibuka, ternyata jenazahnya sudah raib, entah kemana, keluar sendiri dari kurung batang, tanpa tanpa  dilihat orang. Itulah sebabnya, maka kawasan itu dikenal dengan sebutan Luar batang.

Menurut sejarah, kawasan itu disebut Luar batang, karena terletak di luar batang pemgempangan, atau penghalang, yang diletakkan  melintang di muara Ci Liwung.  Pengempangan itu terbuat dari batang kayu diperkuat dengan besi.  Setiap sekoci, sampan, perahu, dan sebagainya  yang akan masuk berlayar di Ci Liwung menuju Kota wajib membayar bea masuk, semacam membayar tol dewasa ini, bila kendaraan hendak memasuki jalan tol ( De Haan 1935: 186) Kampung Luarbatang biasa disebut Kramat Luarbatang, karena di sana terdapat makam yang dikeramatkan, yaitu makam Sayid Husein bin Abubakar bin Abdullah al Aydrus. Beberapa puluh tahun ulama itu, yang oleh sementara orang dipercayai sebagai keturunan Nabi Muhammad, biasa berdakwah di kota–kota pesisir utara Pulau Jawa, dari Batavia sampai Surabaya. Ulama kharismatis itu wafat sekitar tahun 1796, dimakamkan diluar masjid yang dibangun sekitar tahun 1796.  Makamnya ditembok sekitar tahun 1812.  Waktu dilaksanakan  perluasan masjid, sekitar tahun 1827, makam keramat itu menjadi berada di dalam ruangan masjid (J.R Van Diessen 1989:185).

Sumber : http://supermilan.wordpress.com/2007/05/11/asal-usul-nama-tempat-di-jakarta/

Share

Asal-usul nama tempat di Jakarta – bag 3

July 10, 2008 By: Iwan Category: Djakarta Tempo Doeloe 5 Comments →

Jalan Cengkeh

Jalan Cengkeh terletak di Kota Tua Jakarta sebelah utara Kantor Pos, di samping sebelah timur Pasar Pisang.

Dahulu jaman penjajahan Belanda, Jalan itu bernama Princenstraat, tetapi umum juga disebut Jalan Batutumbuh, mungkin karena disana terdapat batu bertulis.  Kawasan sekitar batu prasasti Purnawarman, di Tugu juga biasa disebut Kampung Batutumbuh.

Pada tahun 1918, di dekat tikungan Jalan Cengkeh ke Jalan Kalibesar Timur, yang waktu itu bernama Groenestraat, ditemukan batu bertulis peninggalan orang–orang Portugis, yang biasa disebut padrao.  Padrao itu dipancangkan oleh orang–orang Portugis,  menandai tempat akan dibangun sebuah benteng, sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara Raja Sunda dengan perutusan  Portugis yang dipimpin oleh Henriquez de Lemme, yang menurut Sukamto ditandatangani  pada tanggal 21 Agustus 1522. Batu bertulis itu diberi ukiran berupa lencana Raja Immanuel. Rupanya de Leme beserta rombongannya belum mengetahui bahwa raja Portugal tersebut telah meninggal tanggal 31 Desember 1521.

Dalam perjanjian tersebut disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa.  Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang–barang keperluan yang diminta oleh pihak Sunda.  Mulai saat benteng dibangun pihak Sunda akan menyerahkan 1.000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan barang–barang yang dibutuhkan (Sumber: Hageman 1867: Soekamto 1956: Danasasmita 1983)

(more…)

Share

Asal-usul nama tempat di Jakarta – bag 2

July 10, 2008 By: Iwan Category: Djakarta Tempo Doeloe No Comments →

Cilincing

Kawasan Cilincing terletak di sebelah timur Pelabuhan Samudera Tanjungpriuk, dewasa ini menjadi sebuah kecamatan, Kecamatan Cilincing, termasuk wilayah Kotamadya Jakarta Utara.

Nama Cilincing diambil dari nama anak sungai yang mengalir dari selatan keutara, membelah kawasan tersebut.  Cilincing mungkin lengkapnya berasal dari Ci Calincing.  Kata Ci, adalah bahasa sunda, yang artinya sungai, seperti Ci Tarum, Ci Liwung, dan Ci Manuk.  Cilincing adalah nama jenis pohon, sama dengan belimbing wuluh, averhrhoa Carambola L. Termasuk famili Oxalideae (Fillet 1883 :292).

Walaupun letaknya cukup jauh untuk ukuran tiga abad yang lalu, ternyata disana terdapat dua villa, tempat peristirahatan.  Yang pertama adalah landhuis Cilincing yang dibangun oleh Justinus Vinck pada tahun 1740 dan sampai sekarang masih dapat dilihat, walaupun keadaannya tidak begitu menggembirakan.  Dewasa ini bangunan tersebut dihuni  beberapa pensiunan anggota kepolisian, dan dikenal dengan sebutan Rumah Veteran. Yang kedua adalah landhuis Vredestein yang dibangun oleh mantan Gubernur Pantai Utara Jawa, Nicolaas Hartingh, pada tahun 1750.  Landhuis yang kedua itu sekarang sudah tidak ada bekas–bekasnya.

Dalam sejarah Jakarta, Cilincing memegang peranan cukup penting, karena disanalah pada tanggal 4 Agustus 1811 pasukan

balatentara Inggris yang jumlahnya hamper 12.000 orang, mendarat tanpa mendapat perlawanan dari pihak Belanda, yang pada masa itu berada di bawah kekuasaan Perancis (J.R. van Diesen 1889:303).

(more…)

Share

Asal-usul nama tempat di Jakarta – bag 1

July 09, 2008 By: Iwan Category: Djakarta Tempo Doeloe No Comments →

Kajian sejarah toponomi ini merupakan salah satu upaya dalam menjelaskan sejarah asal – usul nama suatu tempat atau nama kampung yang ada di Jakarta.  Ternyata setelah dilakukan penelitian, baik yang bersifat kajian arsip maupun berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa sesepuh dan nara sumber yang layak untuk itu, menyebutkan nama tempat dan nama kampung yang ada di Jakarta, tidak sekedar nama saja.  Hampir semua nama yang dikaji pada pengkajian nama tempat dan kampung kali ini, mempunyai riwayat sendiri–sendiri.          

Berdasarkan hasil kajian sejarah nama tempat dan kampung yang ada di Jakarta, dapat dikelompokkan asal–usul nama tersebut sebagai berikut:

  1. Nama tempat tersebut berdasarkan suatu peristiwa sejarah yang benar–benar terjadi.  Suatu peristiwa yang dianggap masyarakat setempat sangat penting dan selalu menjadi patokan atau dikaitkan dengan nama tempat peristiwa itu terjadi.
  2. Nama tempat tersebut dikaitkan dengan vegetasi atau tumbuh–tumbuhan yang banyak ditemukan disuatu tempat. Nama tumbuh–tumbuhan yang banyak di suatu tempat, lama kelamaan menjadi nama tempat tersebut.
  3. Nama tempat tersebut dikaitkan dengan nama seorang tokoh yang pernah bermukim atau yang memiliki tempat tersebut. Karena terkenalnya seseorang disuatu tempat, maka menyebabkan masyarakat lebih mengenal tokoh tersebut, lama kelamaan nama tokoh itu menjadi menjadi nama tempat dan sekaligus sebagai penanda tempat atau kampung.
  4. Nama tempat tersebut dikaitkan dengan bentukan alam atau letak suatu ditempat tertentu.  Masyarakat mengaitkan nama suatu tempat dengan bentukan alam yang khas di suatu tempat,
  5. Nama suatu tempat atau kampung dikaitkan dengan konsentrasi sekelompok orang (pendatang) yang bermukim di suatu tempat tertentu.  Masyarakat setempat mengaitkan nama suatu tempat dengan nama suku atau nama etnis ataupun nama tempat asal pendatang yang mendiami tempat tersebut.
  6. Nama suatu tempat atau kampung dikaitkan dengan nama hewan atau nama binatang yang banyak ditemukan ditempat tersebut.

(more…)

Share

Stop SOPA