
Umi dan Ayah
Note pagi itu dari adikku anak ke sepuluh. Meski panjang dan tertatih aku membacanya, sampai juga aku pada akhir note. Air mata sudah menitik di baris ke dua, menderas di paragraph ke tiga, berhenti di paragraph selanjutnya, namun kusambung lagi dengan helaan nafas namun tak menghentikan juga tangisku.
Ya, hari itu entah hari keberapa aku merindu ayahku. Rindu kepada ibuku sudah terobati, meski masih belum pulih. Tetapi rindu kepada ayahku hari itu berbalas note dari adikku.
Sekelebat, seperti flash back film, terkenang ayah.
Memang tidak ada arti tangis dan sesal untuk orang mati. Apalagi orang beriman katanya tidak boleh menyesali kematian, apalagi menangisinya. Tetapi bagaimana jika rindu itu memang sudah menggunung dan akhirnya meletus mengakibatkan tsunami air mata.
Terakhir ayah melepasku di airport ketika aku akan pergi ke Aussie. Cerita suamiku, Ayah juga menangis tersedu dan menitipkan aku kepadanya ketika ia berpamitan untuk menyusulku. Tak menyangka bahwa aku tak akan bersua dia lagi. Begitu bangganya dia ketika aku akan berangkat studi lagi, bahkan seperti orang mau naik haji, setiap ketemu temannya pasti aku disapa sambil bilang “oh ini anak pak Amin yang mau ke Luar negeri!”. Malu aku saat itu, rasanya ayah kok norak banget, tapi aku faham sekarang bagaimana bangganya orang tua jika anaknya bisa berprestasi. Maaf yah! (more…)