Syahwat Kemunafikan Kita
Ledakan berita Ariel-Luna memperjelas bahwa seksografik media kita masih menyedot “syahwat” publik pornografis. Sebuah potret masyarakat kita yang sedang transisi di tengah kepentingan industri ekonomi, konflik, tontonan, tuntunan agama, manipulasi, politik dan dendam, kekerasan seksual campur aduk tanpa terkontrol oleh peradaban, budaya, dan pendidikan kita.
Inilah keretakan moral yang semakin menampakkan titik jenuhnya. Ariel-Luna hanyalah momentum dari deretan sepanjang ledakan kontroversi budaya pop dari Inul, Maria Eva, hingga Dewi Persik. Namun ada magma tersembunyi yang sengaja ditutupi oleh rasa “sok suci” publik kita, dengan seringnya berteriak menudingkan jari telunjuk, tetapi tiga jarinya sedang menuding diri sendiri. Kemunafikan dan keangkuhan seperti ini sangat dimanja oleh industri hedonis yang mengelaborasi sisi lemah masyarakat untuk dijadikan komoditas yang memabukkan. (more…)








