Iwan Abdurrahman

sebaik-baik manusia adalah yg bermanfaat bagi yg lain
Subscribe

Archive for the ‘Refleksi’

Mereka bunuh generasinya sendiri dengan caranya

December 26, 2011 By: Iwan Category: Refleksi No Comments →

situs purbakala "Bab-Edh-dhra"

situs purbakala "Bab-Edh-dhra"

Selama ribuan tahun terkubur, kini jejak atau sisa-sisa kehancuran umat Nabi Luth berhasil ditemukan oleh para ahli arkeologi di sekitar Laut Mati.  Awalnya, penelitian dilakukan oleh William Albright, seorang ahli purbakala pada 1924 di sekitar Laut Mati.  Beberapa orang yang bersama William Albright mencari keberadaan sisa-sisa Kota Sodom dan Gomorah, hingga akhirnya mereka menemukan situs purbakala Bab-Edh-dhra (dibaca: Babhedra).

Keberadaan umat Nabi Luth di sekitar Laut Mati ini diperkuat dengan ulasan National Geographic edisi Desember 1957.  Paul Lapp dan Thomas Schaub, melakukan penggalian kembali di sekitar Laut Mati pada 1967.  Dan kemudian, penggalian diteruskan oleh Werner Keller, seorang ahli arkeologi asal Jerman di sekitar Laut Mati.

Allah membinasakan umat dan negeri tersebut

“Dan siapakah yang akan enggan dari agama Ibrahim itu kalau bukan orang telah memperbodoh dirinya ?” (Al-Baqarah : 130).

Tak ada yang membenci agamanya Ibrahim melainkan dia yang bodoh akan makna dirinya.   Dia tidak mengenali dirinya sendiri, dia tidak  mengetahui sampai batas apa kecerdasannya  dan sampai batas apa kebodohannya.  Tiba-tiba merasa lebih mengetahui, merasa tinggi, tidak perlu pendapat orang lain, tidak perlu diajari orang lain.  Seperti bisa sendiri tanpa bantuan orang lain.   Sampai-sampai ayat-ayat Allah yang disampaikan oleh Nabi tidak merasa perlu diikuti.  Bodohnya orang-orang yang tidak mau mengikuti agama.  Dia pakai cara hidup sendiri. (more…)

Share

Oleh-oleh “Mendadak I’tikaf”

August 29, 2011 By: Iwan Category: Refleksi No Comments →

Menara Masjid Al Azhar Jakapermai Bekasi

Menara Masjid Al Azhar Jakapermai Bekasi

“Yah…nanti kalau Aghis ulang tahun buka puasanya diluar ya yah?!!” kata Aghis.  Satu hari sebelum Aghis ultah istri saya sudah ‘ngingetin’ mengenai rencana tersebut.  Tapi sebenarnya saya ragu karena sehari sebelumnya masih ada kegiatan mabit disekolahnya dan saya takut Aghis kelelahan.  Lagi pula  apakah saya juga bisa pulang cepat dari kantor karena kebetulan ada kerjaan yang mesti saya selesaikan

Alhamdulillah besoknya saya bisa sampai dirumah 30 menit sebelum ‘beduk’, tidak sempat salinan baju, cuman ganti kemeja dengan kaos lengan panjang kemudian berangkat.  Saya bilang ke istri, sore ini setelah buka bersama tidak balik kerumah lagi tapi langsung ke masjid untuk shalat isya + tarawih, jadi mesti disiapkan juga keperluan sampai abis tarawih.   Kalau saya sih gak ribet, tapi biasanya istri dan kedua anak perempuan bawaannya lebih banyak dan kebutuhannya berbeda dan Saya tidak begitu  tahu detail.

Beruntung kami masih kebagian tempat, saya sudah ‘ingetin’ karena ini tempat umum jadi segera setelah buka puasa langsung shalat maghrib dan kalau bisa sebelum buka kita sudah punya wudhu supaya bisa langsung shalat.  Benar juga karena mushallanya kecil, terpaksa shalat maghrib dilakukan bergantian.  Saya & Istri shalat maghrib terlebih dahulu, kemudian Aghis dan kakaknya shalat.

Selesai berbuka kami langsung menuju masjid, masih ada waktu sekitar  15 menit  sebelum masuk waktu isya’.  Setelah selesai shalat isya’ Nadira bilang “Yah…kita i’tikaf yuk yah!!” Saya bilang “Tanya Ibu  dulu”. “Kata Ibu suruh tanya ke Ayah !” he..he..he..malah di ping-pong’. (more…)

Share

“Dan tidak ada seorang teman akrab pun yang menanyakan temannya”

July 17, 2011 By: Iwan Category: Refleksi No Comments →

Saya teringat pada ceramah tarawih yang disampaikan oleh salah satu penceramah pada Ramadhan tahun lalu di Masjid Al Azhar Jakapermai Kalimalang Bekasi.  Saya lupa persis nama penceramah dan temanya, tetapi beliau membawakan beberapa tafsir ayat dari surat Al Ma’arij (surat ke 70 dalam Al Qur’an)

Dengan referensi dari surat Al Ma’arij, beliau menyampaikan amal-amal perbuatan yang dapat membawa manusia ke martabat yang tinggi  yaitu orang-orang yang mengerjakan dan memelihara kesempurnaan shalat, membelanjakan hartanya di jalan Allah, dan mempercayai hari pembalasan.  Beliau juga mengupas sifat dasar manusia yang kikir dan cepat berkeluh kesah dan gelisah.  Ketika manusia sukses dan berhasil didunia mereka menganggap bahwa keberhasilannya murni karena usaha manusia sendiri tanpa ada campur tangan Allah SWT sehingga mereka menjadi kikir (pelit).  Tetapi ketika diberikan kesulitan sebagai peringatan, manusia akan mengeluh dan gelisah tanpa mau mengambil pelajaran dari peringatan tersebut bahkan merasa seolah-olah dia menjadi orang yang paling merana di muka bumi. (more…)

Share

Ayah (dari curahan seorang adik)

May 30, 2011 By: Iwan Category: Refleksi No Comments →

Ummi & Ayah di Pantai Parangtritis

Masih lekat dlm ingatan ketika kau meng’adu’ kepala kami, anak-anakmu ketika kami bertengkar
Terbayang wajah yang marah saat kami mengabaikan sholat
Terekam jelas saat kau men’sidang’ aku dan abangku di ruang tamu krn kami ‘mogok’ mengaji
Bicaramu teratur, dalam dan kaya makna
Bicara pada kami yg masih berusia dini selayaknya bicara pada orang dewasa
Tak tampak ekspresi marah, namun kami tahu kalau kau marah
Marah karena kami tak taat padamu
Pada aturanmu agar kami pergi mengaji setiap hari selepas pulang sekolah
(more…)

Share

Tentang Ketercerabutan Teknologi

May 07, 2011 By: Iwan Category: Refleksi No Comments →

Teknologi bukan sekadar alat atau ”benda”, tetapi mencakup kesatuan cara berpikir, cara budaya, cara berperilaku, cara merasa, bahkan cara bersosialisasi.  Sayangnya, Indonesia hanya mengimpor teknologi sebagai alat, tercerabut dari tempat berpijak dan melahirkan absurditas.  Kritik itu datang dari Yanuar Nugroho, PhD (38), ilmuwan dan peneliti inovasi dari Universitas Manchester, Inggris, penerima Hallsworth Fellowship Bidang Politik Ekonomi.  Yanuar adalah ilmuwan pertama dari Asia Tenggara penerima fellowship bergengsi ini sejak 1944.

”Inovasi adalah bidang kajian, merupakan kombinasi antara filsafat, ekonomi, sosiologi, dan filsafat,” ujar Yanuar di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dengan menggambar grafik, dijelaskan, perkembangan teknologi selalu eksponensial, tetapi perkembangan sosial, ekonomi, politik, pembangunan, dan logika berpikir berjalan linier.  ”Di sini, inovasinya kita ambil, tetapi kita lepaskan dari seluruh gagasan dan konteksnya.” (more…)

Share

Jaminan Sosial

April 19, 2011 By: Iwan Category: Refleksi No Comments →

Taufiq W. Priambodo

Taufiq W. Priambodo

Pekan lalu saya sempat membaca judul tulisan bang Faisal Basri di detik.com yang juga dimuat di laman elektronik milik Jamsostek: http://www.jamsostek.co.id/content/news.php?id=2006

Tulisan yang mengupas kecilnya dukungan dan kepedulian pemerintah (atau tidak ada sama sekali?) pada jaminan sosial rakyat (kecil) di Indonesia.  Sangat kecil bila dibandingkan dengan apa yang sudah negara lain (sebagai contoh: USA, perancis, Jerman) sudah berikan kepada rakyatnya.

Pekan lalu saya, juga warga muslim Indonesia di Bonn lainnya, mendapat kabar gembira kelahiran putri salah satu warga.  Proses yang tidak mudah bagi orang tua bayi, karena terjadi kesalahan pada proses pembuatan asuransi kesehatan.  Kesalahan yang menyebabkan pihak asuransi tidak dapat menanggung proses kelahiran bayi, serta perawatan ibu dan bayi selama di rumah sakit.  Pada kasus normal, asuransi kesehatan menanggung semua biaya pemeriksaan ibu hamil, proses kelahiran, rawat inap ibu dan bayi di rumah sakit (besarnya antara 3500 s/d 5000 euro) serta perawatan ibu hamil di rumah oleh bidan.  Alhamdulillah keluarga tersebut kemudian mendapat bantuan dana dari organisasi sosial.  Bantuan yang cukup untuk menanggung biaya persalinan dst.

Masih pekan lalu, saya mendapat musibah, kecelakaan kecil di tempat kerja.  Kecelakaan saat saya menuruni anak tangga di institut tempat saya bekerja.  Lutut kanan saya terkilir, sakit sekali hingga saya tidak bisa melipat kaki kanan.  Segera setelah kecelakaan saya buat appointment dengan klinik orthopedi, segera pula saya dapat waktu untuk konsultasi dan tindakan medis (bisa saja saya datang ke unit gawat darurat RS besar, hanya pelayanan di RS tidak senyaman di klinik.  Rumah sakit pun kemudian akan merujuk saya ke klinik orthopedi).  Oleh pihak klinik saya didaftarkan sebagai pasien kecelakaan kerja, sehingga universitas tempat saya bekerja yang membayar biaya tindakan medis dsb, bukan asuransi kesehatan saya. (more…)

Share

Stop SOPA