Iwan Abdurrahman

sebaik-baik manusia adalah yg bermanfaat bagi yg lain
Subscribe

Archive for the ‘Refleksi’

“Dan tidak ada seorang teman akrab pun yang menanyakan temannya”

July 17, 2011 By: Iwan Category: Refleksi No Comments →

Saya teringat pada ceramah tarawih yang disampaikan oleh salah satu penceramah pada Ramadhan tahun lalu di Masjid Al Azhar Jakapermai Kalimalang Bekasi.  Saya lupa persis nama penceramah dan temanya, tetapi beliau membawakan beberapa tafsir ayat dari surat Al Ma’arij (surat ke 70 dalam Al Qur’an)

Dengan referensi dari surat Al Ma’arij, beliau menyampaikan amal-amal perbuatan yang dapat membawa manusia ke martabat yang tinggi  yaitu orang-orang yang mengerjakan dan memelihara kesempurnaan shalat, membelanjakan hartanya di jalan Allah, dan mempercayai hari pembalasan.  Beliau juga mengupas sifat dasar manusia yang kikir dan cepat berkeluh kesah dan gelisah.  Ketika manusia sukses dan berhasil didunia mereka menganggap bahwa keberhasilannya murni karena usaha manusia sendiri tanpa ada campur tangan Allah SWT sehingga mereka menjadi kikir (pelit).  Tetapi ketika diberikan kesulitan sebagai peringatan, manusia akan mengeluh dan gelisah tanpa mau mengambil pelajaran dari peringatan tersebut bahkan merasa seolah-olah dia menjadi orang yang paling merana di muka bumi. (more…)

Share

Ayah (dari curahan seorang adik)

May 30, 2011 By: Iwan Category: Refleksi No Comments →

Ummi & Ayah di Pantai Parangtritis

Masih lekat dlm ingatan ketika kau meng’adu’ kepala kami, anak-anakmu ketika kami bertengkar
Terbayang wajah yang marah saat kami mengabaikan sholat
Terekam jelas saat kau men’sidang’ aku dan abangku di ruang tamu krn kami ‘mogok’ mengaji
Bicaramu teratur, dalam dan kaya makna
Bicara pada kami yg masih berusia dini selayaknya bicara pada orang dewasa
Tak tampak ekspresi marah, namun kami tahu kalau kau marah
Marah karena kami tak taat padamu
Pada aturanmu agar kami pergi mengaji setiap hari selepas pulang sekolah
(more…)

Share

Tentang Ketercerabutan Teknologi

May 07, 2011 By: Iwan Category: Refleksi No Comments →

Teknologi bukan sekadar alat atau ”benda”, tetapi mencakup kesatuan cara berpikir, cara budaya, cara berperilaku, cara merasa, bahkan cara bersosialisasi.  Sayangnya, Indonesia hanya mengimpor teknologi sebagai alat, tercerabut dari tempat berpijak dan melahirkan absurditas.  Kritik itu datang dari Yanuar Nugroho, PhD (38), ilmuwan dan peneliti inovasi dari Universitas Manchester, Inggris, penerima Hallsworth Fellowship Bidang Politik Ekonomi.  Yanuar adalah ilmuwan pertama dari Asia Tenggara penerima fellowship bergengsi ini sejak 1944.

”Inovasi adalah bidang kajian, merupakan kombinasi antara filsafat, ekonomi, sosiologi, dan filsafat,” ujar Yanuar di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dengan menggambar grafik, dijelaskan, perkembangan teknologi selalu eksponensial, tetapi perkembangan sosial, ekonomi, politik, pembangunan, dan logika berpikir berjalan linier.  ”Di sini, inovasinya kita ambil, tetapi kita lepaskan dari seluruh gagasan dan konteksnya.” (more…)

Share

Jaminan Sosial

April 19, 2011 By: Iwan Category: Refleksi No Comments →

Taufiq W. Priambodo

Taufiq W. Priambodo

Pekan lalu saya sempat membaca judul tulisan bang Faisal Basri di detik.com yang juga dimuat di laman elektronik milik Jamsostek: http://www.jamsostek.co.id/content/news.php?id=2006

Tulisan yang mengupas kecilnya dukungan dan kepedulian pemerintah (atau tidak ada sama sekali?) pada jaminan sosial rakyat (kecil) di Indonesia.  Sangat kecil bila dibandingkan dengan apa yang sudah negara lain (sebagai contoh: USA, perancis, Jerman) sudah berikan kepada rakyatnya.

Pekan lalu saya, juga warga muslim Indonesia di Bonn lainnya, mendapat kabar gembira kelahiran putri salah satu warga.  Proses yang tidak mudah bagi orang tua bayi, karena terjadi kesalahan pada proses pembuatan asuransi kesehatan.  Kesalahan yang menyebabkan pihak asuransi tidak dapat menanggung proses kelahiran bayi, serta perawatan ibu dan bayi selama di rumah sakit.  Pada kasus normal, asuransi kesehatan menanggung semua biaya pemeriksaan ibu hamil, proses kelahiran, rawat inap ibu dan bayi di rumah sakit (besarnya antara 3500 s/d 5000 euro) serta perawatan ibu hamil di rumah oleh bidan.  Alhamdulillah keluarga tersebut kemudian mendapat bantuan dana dari organisasi sosial.  Bantuan yang cukup untuk menanggung biaya persalinan dst.

Masih pekan lalu, saya mendapat musibah, kecelakaan kecil di tempat kerja.  Kecelakaan saat saya menuruni anak tangga di institut tempat saya bekerja.  Lutut kanan saya terkilir, sakit sekali hingga saya tidak bisa melipat kaki kanan.  Segera setelah kecelakaan saya buat appointment dengan klinik orthopedi, segera pula saya dapat waktu untuk konsultasi dan tindakan medis (bisa saja saya datang ke unit gawat darurat RS besar, hanya pelayanan di RS tidak senyaman di klinik.  Rumah sakit pun kemudian akan merujuk saya ke klinik orthopedi).  Oleh pihak klinik saya didaftarkan sebagai pasien kecelakaan kerja, sehingga universitas tempat saya bekerja yang membayar biaya tindakan medis dsb, bukan asuransi kesehatan saya. (more…)

Share

Shalat Jum’at

March 29, 2011 By: Iwan Category: Refleksi No Comments →

Taufiq W. Priambodo

Taufiq W. Priambodo

Sudah pukul 13.00, Jumat itu.  Dari dalam tram yang melaju, saya putuskan untuk pergi ke Masjid Al-Muhajirin, mengejar shalat Jumat rombongan kedua.  Khatib biasanya naik mimbar dan memulai khutbah pukul 13.30 (siang itu khatib mulai sedikit lebih awal).  Beberapa masjid (terutama yang dikelola komunitas arab atau kami menyebutkan „masjid arab“), di beberapa kota di Jerman, menyelenggarakan shalat Jumat dalam 2 rombongan.  Jumlah jamaah dan ketersediaan tempat menjadi salah satu alasan, selain memberikan kesempatan bagi jamaah yang tidak bisa hadir di rombongan pertama shalat Jumat, karena izin dari tempat bekerja misalnya.

Jumat itu, seperti biasa, khatib di masjid Muhajirin (juga di masjid arab lainnya) menyampaikan beberapa tema khutbah.  Khutbah panjang sudah umum dijumpai saat shalat Jumat di masjid arab.  Pada beberapa masjid, bahkan jarak antara akhir shalat Jumat dan adzan ashar sangat dekat (pada waktu tertentu di perhitungan jam musim dingin, jarak shalat Dzuhur dan Ashar nya memang dekat).  Sering kali jamaah masih khidmat dzikir setelah shalat Jumat, saat muadzin berdiri mengumandangkan adzan Ashar. (more…)

Share

Ibu Mukadis

February 16, 2011 By: Iwan Category: Refleksi No Comments →

Makam Ibu Mukadis

Makam Ibu Mukadis

“Bin ich bald tot, Teyfik (Saya akan segera mati, Taufiq).“  Ungkapan yang sering saya dengar dari ibu Mukadis (akrab disapa Muka).  “Nein, du bleibts hier.  Deine Kinder brauschst dir noch. Wir alle brauchen dir.“ (Tidak, kamu tetap di sini.  Anak-anak kamu masih membutuhkan kamu.  Kami pun masih membutuhkan kamu).“ Hibur saya.

April 2006 saya bergabung dengan institut ilmu peternakan, tempat saya mengerjakan (saat itu) thesis MSc.  Sejak itu pula saya mengenal ibu Mukadis.  Ibu 7 anak, asli Macedonia, yang sudah hampir 40 tahun tinggal di Jerman.  Dan, sejak awal kami berjumpa, ibu Mukadis sudah tidak sehat, akibat penyakit diabetes yang sejak lama beliau idap.  Penyakit yang turut mengurangi fungsi organ lain, terutama jantung beliau.  Ibu Mukadis menghabiskan separuh dari usianya bekerja di Universitas Bonn, sebagai tenaga bantuan manajeman.  Tugas beliau sehari2 menyiapkan kopi dan teh untuk mahasiswa dan dosen yang bekerja di institut.

Taufiq W. Priambodo

Taufiq W. Priambodo

Waktu coffee break adalah saat-saat kami, mahasiswa muslim di institut gunakan untuk jumpa, duduk bersama dan berbincang-bincang tentang banyak hal dengan ibu Mukadis.  Biasanya ibu Mukadis bercerita tentang kesehatannya pada hari itu, juga cerita tentang anak2 nya atau cerita masa lalu beliau.  Sambil, tidak lupa beliau menyiapkan makanan ringan a la Macedonia (sangat mirip makan Turki).   Sering beliau siapkan burek (mirip martabak) untuk kami (plus cabai, khusus untuk saya).  Tampak beliau sangat terhibur bila dapat jumpa kami, walau hanya singkat dalam satu hari (bila satu saat kami, karena sibuk di lab, melewatkan coffee break, terkadang ibu Mukadis datang ke kantor mencari kami). (more…)

Share

Stop SOPA