Iwan Abdurrahman

sebaik-baik manusia adalah yg bermanfaat bagi yg lain
Subscribe

tepat 3 tahun lalu (part 3)

October 29, 2011 By: Iwan Category: Family

Anis & Istri

Pagi ini setelah mengantar anak2 ke sekolah, kulihat jam tangan…6.25 pagi…bimbang sejenak..ku gas motorku sambil bergumam dalam hati…“Mumpung msh tinggal deket, mepet dikit smp ktr gpp deh yg penting ga telat..”  Kuarahkan motor ke Gg. Mesjid menuju pemakaman wakaf di depan Masjid Nurusshobah-Otista, Jaktim.

Sampai di tempat buru-buru memarkirkan motor.   Sambil mengucap salam, aku masuk ke pemakaman.   Kuarahkan pandangan ke arah pusara ayahanda tercinta yg terletak persis dibawah pohon kamboja.  Ada perasaan gelisah tapi menenangkan setiap kali mengunjungi pusara ayahanda tercinta.

Sampai dipusara terlihat sedikit kotor oleh guguran daun dan bunga kamboja.  Segera kubersihkan, angkat satu demi satu dedaunan dan bunga kamboja yg sudah layu.  Sayangnya pagi ini tidak bawa bunga yang biasanya kubeli di TPU Sunan giri-Rawamangun.  Bersih sudah pusara ayahandaku tercinta. Read the rest of this entry →

Share

tepat 3 tahun lalu (part 2)

October 29, 2011 By: Iwan Category: Family

HM. Amin bin Nashir bin Risin

Dipusara ini aku tersenyum….
Tersenyum bangga atas segala perjuangan dan kerja kerasnya mendidik kami selaku anak2nya.
Tersenyum bahagia melihat banyak doa disampaikan kepadanya, tidak hanya oleh istri dan anak2nya tetapi juga saudara, handai taulan dan teman2nya

Dipusara ini aku menangis….
Menangis rindu…rindu bercengkrama, berdiskusi, mendengar cerita2 inspiratifnya, mendengar taushiahnya
Menangis sedih…sedih belum bisa meneruskan semua langkah perjuangannya…sedih belum bisa menggantikan semua perannya menjaga uminda tercinta…membimbing adik2 tersayang…. Read the rest of this entry →

Share

tepat 3 tahun lalu (part 1)

October 27, 2011 By: Iwan Category: Family

Daan Syah Rizki

Hari ini tepat 28 Dzulqo’dah 1432 H dan malam ini memasuki 29 Dzulqo’dah 1432 H.   Berarti tepat 3 tahun lalu, 28 Dzulqo’dah 1429 H, ayahanda yang kita cintai (Allohu yarham) dipanggil oleh Alloh swt.  Ahh, teringat aku menemani Ummi di Rumah Sakit, mulai dari RS. Pasar Rebo sampai RS Puri Mandiri dan nyaris tak pernah pulang.  Pergi dan pulang mengajar selalu dari dan ke rumah sakit.

Ahh, betapa ku menyaksikan cinta kasih ummi yang teramat besar kepada ayahanda dibalik kekakuannya, kebawelannya dan kegalakannya dahulu kepada ayah.. Rupanya itulah bentuk cintanya pada ayah.. Read the rest of this entry →

Share

Hello, i’m Faruq

October 19, 2011 By: Iwan Category: Family

Adik Faruq

 

foto oleh nurul

Share

Rindu (Part 3) : Ku bayar lewat doa

October 18, 2011 By: Iwan Category: Family

Taman Bacaan Karang Bahagia - Cikarang

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro.  Amin

Setiap sore celoteh bocah selalu meramaikan rumah.  Doa di atas adalah doa kedua yang sering dilafalkan mereka bahkan hampir setiap hari setelah doa Robbi zidni ilma (Doa mau belajar).

Ada satu alasan sehingga lewat celoteh bocah selalu ku sisipkan belajar doa untuk orang tua, salah satunya adalah untuk diriku sendiri; agar aku terus bisa menggumamkan doa itu untuk kedua orang tuaku sendiri; Ayahanda dan uminda, Jidah dan Buya.

“siapa yang mau hadiah?” tanyaku sore itu kepada anak-anak sebelum memulai belajar.  Spontan anak-anak tunjuk tangan, bahkan ada yang langsung lompat.

“Siapa yang mau ngasih hadiah?” sambungku lagi, Anak-anak bahkan bangun dan berebut hendak menuju ke arahku sambil teriak “aku bun!” “Saya bun!” Read the rest of this entry →

Share

Rindu (Part 2) : Rindu berbalas Note

October 18, 2011 By: Iwan Category: Family

Umi dan Ayah

Note pagi itu dari adikku anak ke sepuluh. Meski panjang dan tertatih aku membacanya, sampai juga aku pada akhir note.  Air mata sudah menitik di baris ke dua, menderas di paragraph ke tiga, berhenti di paragraph selanjutnya, namun kusambung lagi dengan helaan nafas namun tak menghentikan juga tangisku.

Ya, hari itu entah hari keberapa aku merindu ayahku.  Rindu kepada ibuku sudah terobati, meski masih belum pulih. Tetapi rindu kepada ayahku hari itu berbalas note dari adikku.

Sekelebat, seperti flash back film, terkenang ayah.

Memang tidak ada arti tangis dan sesal untuk orang mati.  Apalagi orang beriman katanya tidak boleh menyesali kematian, apalagi menangisinya.  Tetapi bagaimana jika rindu itu memang sudah menggunung dan akhirnya meletus mengakibatkan tsunami air mata.

Terakhir ayah melepasku di airport ketika aku akan pergi ke Aussie.  Cerita suamiku, Ayah juga menangis tersedu dan menitipkan aku kepadanya ketika ia berpamitan untuk menyusulku.  Tak menyangka bahwa aku tak akan bersua dia lagi.  Begitu bangganya dia ketika aku akan berangkat studi lagi, bahkan seperti orang mau naik haji, setiap ketemu temannya pasti aku disapa sambil bilang “oh ini anak pak Amin yang mau ke Luar  negeri!”.  Malu aku saat itu, rasanya ayah kok norak banget, tapi aku faham sekarang bagaimana bangganya orang tua jika anaknya bisa berprestasi.  Maaf yah! Read the rest of this entry →

Share

Stop SOPA